Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 29 Nov 2021
Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 23 Nov 2021
Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 19 Nov 2021
Oleh Nutrisi Untuk Bangsa 12 Nov 2021
Tanya Ahli
Kirimkan pertanyaan Anda seputar gizi ibu dan anak, yang akan dijawab oleh Tanya Ahli SGM.
Tebar Semangat : Pesona Jiwa Sang Pemimpin
Oleh Aprillia Arifiyanti 13 Oct 2013
“Gagean pada tangi, shubuh-shubuh…” (artinya : Ayo pada bangun) Dug…Duug…Duug!! sembari memukulkan ujung sapu ke pintu kamar yang tentu saja bunyinya mengagetkan saya dan sayapun harus terbangun karenanya, untuk sholat dan bekerja menyapu, ngepel hingga kepasar. Itu hanya sebagian masa kecil (masa lalu) saya yang pada saat itu tinggal bersama simbah (alm). Kesannya seolah kasian sekali saya kala itu dimana teman-teman sebaya saya masih enak-enaknya tidur pulas dengan bantalan selimut yang empuk. Saya sudah harus terbangun untuk membantu pekerjaan si mbah yang rumahnya sangat luas dan tak memiliki asisten (selain saya, kakak dan tante yang super cerewet). Lalu apakah saya marah terhadap orang tua saya kala itu (yang seolah menelantarkan saya)? jawabannya, saya tak merasakan marah sedikitpun (mungkin karena saya masih anak-anak yang belum banyak paham masalah rumah tangga) selain saya hanya merasa kangen dengan mereka, terutama Mama.
Yah, bagi saya peran apapun yang kita rasakan dimasa lalu adalah karakter jiwa kita akan datang. Saya justru merasa sangat berterima kasih terhadap ‘ketidakperhatian’ mereka dimasa kecil saya, karena ternyata memang ada hal-hal yang tak saya mengerti yang membuat mereka harus berpisah. Dengan begitu saya belajar menjadi pribadi yang kuat, mandiri tidak lemah dan selalu merasa tertantang dengan hal apapun yang belum saya kuasai. Bagi saya itu adalah bagian karakter kepemimpinan yang pada akhirnya mengantarkan saya menjadi pribadi pemberani (berani tampil diacara umum, berani berbuat kebaikan, berani menantang ketidakadilan dan berani ditinggal banyak orang sekalipun). Saya pikir selama jalan yang saya tempuh adalah kebenaran, kenapa harus takut? Teringat masa kuliah, saya pernah dijauhi teman-teman dekat karena tak gaul dengan jenis narkotika. Namun mati satu teman, tumbuh seribu teman baik.
Alhamdulillah, masa lalu sudah terlewati dengan segala prosesnya. Masa kini dan akan datang adalah bagaimana saya dapat menjadikan 3A (sebutan untuk 3 putri Saya : Alyssa, Aqeela & Aisha) menjadi pribadi yang tepat guna, berakhlak mulia (cerdas) dan memiliki jiwa kepemimpinan. Lalu bagaimana cara saya (sebagai Ibu) men support (menstimulus) anak-anak saya agar menjadi seorang pemimpin (minimal bagi dirinya sendiri)?
1. Didik akhlaknya melalui ibadah
Sebagai Muslim tentunya saya harus mengenalkan tata cara ibadah (Sholat) yang baik. Karena amalan utama yang ditanyakan di Yaumil Akhir adalah sholat, maka penting bagi saya untuk membiasakan mereka sholat tepat waktu dan berjamaah. Agar tak hanya sekedar retorika belaka maka sayapun harus melibatkan diri bersama mereka dan memberi contoh untuk bergerak (mengambil air wudhu dan berjalan kemasjid misalnya). Dengan pembiasaan seperti ini otomatis setiap tiba waktu Sholat merekapun terbiasa menghentikan aktifitasnya sesaat untuk berdoa memohon ampun pada Sang Pencipta. Dengan semakin intensnya kita berkomunikasi dengan sang Pencipta, maka hatipun menjadi tenang dan ketenangan hati membawa aura sosok pemimpin menjadi lebih bijaksana dalam bersikap.
2. Pancing Kecerdasan Naturalisnya
Disela waktu luang yang ada seperti hari libur misalnya jangan sungkan untuk menyertakan anak ikut berkebun seperti memetik tanaman toga, memetik kangkung, daun pepaya, daun katuk atau buah-buahan yang memang letaknya tak jauh dari rumah atau bahkan dihalaman rumah sendiri. Jangan lupa selipkan juga pembelajaran didalamnya mulai dari ilmu matematika hingga pengetahuan alamnya. Dengan begitu selain mengajarkan anak untuk mencintai alam melaui kecerdasan naturalisnya, juga untuk mengenalkan bentuk cinta ciptaan Nya yang sungguh sangat luar biasa. Pemimpin yang baik tentunya pemimpin yang mampu memanfaatkan sekaligus merawat alam raya ini bukan?
3. Akrab dengan teknologi
Beda generasi beda zaman, sehinggat tak heran jika jaman saya dulu teknologi adalah barang mahal dan langka. Segala sesuatunya tak semudah dan secepat seperti saat ini. Untuk itu jangan pernah menjauhinya justru sebaliknya, kita nikmati saja dampak positif keberadaan teknologi tersebut yang terpenting jangan sampai lalai dan menjadi korban (malas) dari kemudahan teknologi yang dimiliki. Atur waktu sebaik mungkin saat menggunakannya, bila sempat (sesekali memang harus disempatkan) kita terlibat bersama agar sianak merasa dunianya dihargai dengan begitu timbulah rasa PD yang tinggi. Tentu saja seorang pemimpin tentu harus ‘melek’ teknologi agar tak ketinggalan informasi.
4. Minimalkan Bantuan Maksimalkan Potensi
Agar menjadi calon pemimpin yang mandiri saya tergolong orang tua yang minim bantuan. Berbeda dengan orang tua pada umumnya yang sedikit-sedikit membantu anaknya. Mulai dari sianak yang terluka sedikit saja, orang tuanya yang heboh duluan alhasil sianak yang tadinya tak merasa sakit malah menjadi-jadi!. Sayapun jika anak terluka tentu saja saya bantu meringankan lukanya, namun tak harus pakai gerakan mulut yang ujung-ujung nya malah merembet kemana-mana. Bagi saya ucapan adalah doa, sehingga saya sangat berhati-hati dalam berkata dengan sikecil. Sayapun rela menunggu beberapa menit menyaksikan sibontot memasang kancing bajunya sendiri, walaupun terkadang kurang pas antara lubang kancing atas yang dimasukan pada kancing dibawahnya namun tetap saya beri pujian hebat untuknya. Hasilnya dirinyapun akan tersenyum dengan bangganya. Sambil berkata “Yee…aku bisa!”
5. Melibatkan Diri Dengan Ketertarikan (karakternya)
Karena beda anak beda karakter otomatis sebagai ibu haruslah memahami keinginannya. Seperti sibontot Aisha (3th) yang suka sekali bermain Puzzle sederhana (sesuai usianya) hingga menghabiskan waktu yang tak sedikit, itupun jika sedang tak mood selalu minta ditemani Bundanya. Tak masalah bagi saya hitung-hitung merangsang kecerdasan visual spasialnya (cerdas gambar). Sama halnya dengan jiwa pemimpin yang sebisa mungkin dapat mengatasi masalah sendiri dan mencari solusi terbaik untuk memecahkan permasalahannya.
6. Ajak Anak Berolahraga
Selain membuat tubuh menjadi sehat, dengan berolahraga bersama terjalin kehangatan dan semangat untuk rutin melakukannya. Berhubung sisulung Alyssa memiliki kecerdasan kinestetik (cerdas gerak) sehingga dirinyalah yang paling menonjol semangatnya untuk berolahraga apapun jenisnya baik bersepeda, berenang, main bola, atau sekedar berjalan kaki. Seorang pemimpin tentunya harus memiliki kesehatan yang prima agar dapat menjalankan program-programnya dengan maksimal.
7. Cintai Membaca
Jadikan membaca itu sebagai kegiatan yang menyenangkan, karena dengan menyukai aktifitas ini tentunya kita menjadi tahu dan dengan banyak tahu otomatis menjadi banyak ilmu. Pemimpin yang hebat tentunya pemimpin yang banyak tahu dan tak ingin ketinggalan informasi.
8. Beri Nutrisi Tepat
Sebagai penunjang hidup yang sehat, sayapun tak boleh sembarangan memberikan asupan untuk keluarga. Saya menyadari bahwa kualitas nutrisi sangat penting untuk anak-anak yang masih dalam proses pertumbuhan. Untuk itulah saya selalu selipkan sayuran dan ikan dalam waktu makan, menyediakan buah sebagai cemilan menyegarkan dan memberinya susu sebagai minuman bernutrisi yang menyehatkan. Calon pemimpin bangsa tentunya harus memiliki kesehatan yang prima bukan?
9.Luangkan Waktu Bercerita & Mendengarkan Cerita
Disinilah letak kelemahan orang tua, terutama orang tua yang dua-duanya berkarir diluar rumah. Minim sekali berbagi cerita, atau sekedar mendongeng apalagi mendengarkan cerita. Hanya simbok lah pendengar setianya. Padahal dari cerita tersebutlah kita menjadi tahu dimana letak kelebihan, kekurangan dan keinginan sianak yang sebenarnya. Dengan bercerita kejadian sehari hari yang dialami, sianakpun menjadi terampil berbicara dan percaya diri. Makin matanglah kecerdasan inter personalnya karena dimanapun dia berada, dia bisa membawa dirinya sendiri bergaul dengan sesama (termasuk peka terhadap sesama). Calon pemimpin bangsa tentu harus mampu melakukan hal semacam ini bukan?
9 Stimulasi diatas sebetulnya hanya sebagian dari banyaknya cara bagaimana seorang ibu (terutama saya) memberikan yang terbaik terhadap putera-puterinya. Sehingga harapannya terbentuklah karakter-karakter seperti dibawah ini :
A. Religius
Calon pemimpin bangsa tentu harus dekat dengan Sang Pencipta sehingga jika sudah terbiasa dekat terciptalah nilai kejujuran dan kebaikan dalam setiap tingkah lakunya (Tak tergiur dengan barang apapun yang bukan haknya).
- Aisha sudah pintar sholat looh
B. Peduli lingkungan (peduli sesama)
Jika sedini mungkin sudah peduli lingkungan dan peduli terhadap sesama diharapkan calon pemimpin bangsa ini mampu mengarahkan warganya untuk selalu berbagi, bergotong royong, membuang sampah pada tempatnya, dan menghijaukan bumi ini dari pemanasan global.
C. Percaya Diri
Karakter ini tentunya diperlukan calon pemimpin bangsa agar dapat memajukan bangsanya untuk tampil menjadi yang terdepan. Seperti halnya si kaka ketika hendak tampil untuk lomba menyanyi, walaupun suara tak merdu namun ekpresi percaya dirinya yang memukau mambuatnya tampil beda bahkan dari sebelum manggung tak ada rasa cemas sedikitpun apalagi sampai mogok (seperti teman lainnya).
D. Mandiri (Tak Mudah menyerah)
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mandiri, begitupula dengan karakter calon pemimpin bangsa yang tak mudah menyerah tanpa mencoba terlebih dahulu sebelumnya. Seperti halnya sibontot Aisha ketika saya biarkan dirinya melempar bola keatas gawang yang tak bisa-bisa, namun dirinya terus dan terus berusaha tanpa lelah. Hasilnya? tetap saja sibola berada jauh dibawah gawang karena memang itu adalah gawang besar bukan gawang untuk permainan anak-anak. Namun pribadi tak mau menyerahlah yang membuat saya berdecak kagum terhadap kegigihannya.
E. Bersahabat
Calon pemimpin bangsa tentunya harus mampu bersahabat dengan siapapun, tak perlu pandang bulu karena semua manusia dimata Tuhan adalah sama yang membedakan hanya amal baik dan buruknya ketika hidup didunia. Termasuk ketika si kaka belajar kelompok untuk memecahkan tugas yang diberikan gurunya selain belajar bersahabat tentunya mengasah kecerdasan inter personalnya (cerdas teman).
F. Aktif & Kreatif
Menjadi pribadi yang aktif dengan mencoba segala hal baru yang positif dengan kreatifitasnya membuat calon pemimpin bangsa menjadi lain (lebih handal) dari yang lain. Seperti si Kaka kedua (Aqeela) yang suka memanfaatkan kertas yang ditemuinya menjadi coretan pena atau bahkan membuat kreatifitas dengan seni melipatnya menjadi mahkota dan tongkat permaisuri, hihihi bagi saya itu sangat memukau terlihat sekali kecerdasan visual spasialnya seperti adiknya.
Beberapa karakter calon pemimpin bangsa versi saya diatas tentunya akan terwujud dan bahka pula bertambah jika sinergis dilakukan secara continue. Peran ibu memang sangat penting dan utama dalam memegang peran sentral tumbuh kembang anak-anak. Lebih penting lagi adalah aktualisasikan secara nyata bukan sekedar teori atau teriakan lisan semata, karena anak sekarang adalah anak-anak dengan generasi yang pesat sehingga jika tidak sejalan dengan apa yang dilihat dan dicontohkan oleh yang menyuruh maka yang terjadi adalah pemberontakan yang justru akan membuat suasana semakin tak sehat. Untuk itu sebagai orang tua mari kita gali bersama potensi yang dimiliki anak-anak kita dengan tuntunan yang baik dan tebarkan semangat…!! agar pesona jiwa sang pemimpin bangsa terasa nyata kehadirannya.
Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Writing Competition Bersama Sari Husada.
Informasi lebih lanjut :
www.http://nutrisiuntukbangsa.org/
Twitter : @Nutrisi_Bangsa
Fb : https://www.facebook.com/Nutrisi.untuk.Bangsa