Informasi Media

Anda adalah seorang jurnalis, penerbit, komunikasi atau media profesional: 
Kami di sini untuk menjawab pertanyaan Anda berkaitan dengan kelompok berita / data, permintaan wawancara, permintaan kemitraan

World Food Day 2026 Pentingnya Literasi Pangan Berbasis Sains untuk Pilihan Pangan Lebih Sehat

Latest Update: 26 Oct 2026

Tangerang, 15 Oktober 2026 – Di tengah melimpahnya informasi gizi saat ini, masyarakat sering kali dihadapkan pada ragam persepsi mengenai makanan yang dianggap sehat maupun tidak. Padahal, World Health Organization (WHO) melalui panduan Healthy Diet 2026 menekankan bahwa terdapat empat prinsip utama pola makan sehat, yaitu kecukupan (adequacy), keseimbangan (balance), moderasi (moderation), dan keberagaman (diversity)1. Dalam rangka memperingati World Food Day 2026 bertema “Innovate Today. Nourish Tomorrow”, Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) menyelenggarakan edukasi berbasis sains melalui seminar dan interactive workshop. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nutrisi, fungsi dan keamanan bahan pangan, serta cara membaca informasi pada label pangan secara lebih menyeluruh, sehingga keluarga dapat membuat pilihan pangan yang tepat.

Pemahaman pangan yang utuh sangat penting dalam mendukung pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), periode krusial yang menjadi fondasi tumbuh kembang anak. Orang tua perlu memahami bahwa penilaian terhadap pangan tidak cukup hanya berdasarkan satu bahan tertentu, tetapi juga perlu mempertimbangkan komposisi, kandungan gizi, porsi konsumsi, dan perannya dalam pola makan sehari-hari. Melalui edukasi berbasis sains, orang tua diharapkan dapat memahami informasi pangan lebih cermat dan membuat keputusan sesuai dengan kebutuhan gizi keluarga.

Sejalan dengan hal tersebut, Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), menegaskan pentingnya masyarakat membiasakan diri membaca label gizi dan komposisi produk secara utuh sebelum mengambil keputusan terkait pangan keluarga.

"Dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga, khususnya pada masa pertumbuhan anak, penting bagi orang tua untuk memahami informasi pada label pangan secara menyeluruh dan tidak berfokus hanya pada satu bahan tertentu. Interaksi berbagai bahan pangan yang digunakan juga dapat menyebabkan sifat dan karakteristik produk pangan menjadi berbeda dengan sifat dan karakteritik bahan pangan secara tunggal. Evaluasi terhadap suatu produk perlu mempertimbangkan keseluruhan komposisi, nilai gizi, porsi konsumsi, serta perannya dalam pola makan sehari-hari. Pendekatan ini membantu masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif dan membuat keputusan yang lebih tepat berdasarkan informasi yang utuh," jelas dr. Diana.

Lebih lanjut, dr. Diana menjelaskan bahwa setiap bahan pangan memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda dalam suatu produk. Karbohidrat, misalnya, merupakan zat gizi makro yang menjadi sumber energi utama tubuh dan terdiri dari berbagai jenis dengan karakteristik yang berbeda dalam proses metabolisme di dalam tubuh maupun dalam proses pembuatan bahan pangan. Kombinasi bahan-bahan yang digunakan dalam produk pangan ditujukan agar dapat memenuhi jenis dan jumlah zat gizi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Namun, memahami kandungan pangan dari sisi nutrisi saja belum cukup untuk menjelaskan mengapa suatu bahan digunakan dalam produk olahan. Setiap bahan baku juga memiliki fungsi teknologis yang menentukan kualitas, kestabilan, serta pengalaman konsumsi (sensory experience) suatu produk pangan. Proses formulasi ini memerlukan keseimbangan yang tepat antara standar gizi, tekstur, rasa, hingga keamanan produk guna memastikan nilai nutrisi dan kualitas fisiknya dapat saling melengkapi.

Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), Julia R. Wijaya, Ph.D., menjelaskan pentingnya memahami sifat dan fungsi berbagai komponen pangan. “Banyak orang membayangkan membuat formulasi produk pangan itu sederhana, padahal setiap bahan memiliki fungsi yang berbeda, dan banyak yang sebenarnya secara fungsi saling melengkapi. Ada banyak bahan yang keberadaan dan perannya secara keseluruhan tidak dapat digantikan dengan satu bahan yang lain. Sebagai contoh, pemanis buatan dapat mengganti rasa manis, namun menggunakan pemanis buatan saja tidak dapat menggantikan semua karakter yang dikontribusikan oleh gula dalam suatu produk pangan, dan ini akan memengaruhi karakteristik produk yang dihasilkan. Pemanis hanya dapat menggantikan fungsi gula sebagai pemberi rasa manis, namun dalam produk yang menggunakan gula bukan hanya sebagai pemberi rasa manis, peran gula terhadap karakter fisik seperti tekstur dan body tidak dapat tergantikan oleh pemanis. Di sinilah bahan seperti maltodekstrin dibutuhkan. Maltodekstrin bukan gula atau gula tambahan. Struktur maltodekstrin berbeda dengan gula.

Dalam regulasi pangan, baik BPOM maupun otoritas pangan internasional seperti FDA dan EFSA, maltodekstrin dikategorikan sebagai karbohidrat, hasil hidrolisis atau bahan pangan hasil olahan/turunan dari pati yang dapat digunakan sebagai bagian dari formulasi produk. Maltodekstrin sering dibutuhkan dalam produk pangan justru untuk peran yang berkaitan dengan karakteristik fisik dan fungsional, bukan rasa. Pada berbagai produk seperti susu pertumbuhan, minuman, hingga pangan fungsional, maltodekstrin berperan untuk menjaga mouthfeel, kelarutan, serta menjadi carrier untuk vitamin dan mineral dalam produk pangan,” papar Julia.

Peningkatan literasi pangan berbasis sains sangat berguna bagi masyarakat. Pemahaman tentang struktur, sifat dan fungsi bahan pangan, serta komposisi pangan secara utuh dengan merujuk pada sumber informasi yang kredibel akan membantu masyarakat untuk mengerti produk pangan yang dikonsumsinya, memahami bagaimana semua bahan berinteraksi sehingga menilai produk tidak lagi hanya dari satu jenis bahan tertentu," ujar Julia.